BANJARMASIN – Ketergantungan Kalsel akan barang-barang impor dari negara lain ternyata cukup besar. Dari sejumlah negara yang menjadi pemasok barang-barang impor di Kalsel, Korea Selatan menjadi Negara teratas dengan jumlah impor mencapai US$182, 23 juta untuk sepanjang tahun 2012 tadi. Hal ini terungkap dalam rilis resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, belum lama tadi.
Berdasarkan hasil survey BPS Kalsel, nilai impor Kalsel terbesar pada bulan Desember 2012 adalah berasal dari Korea Selatan dengan nilai US$182,32 juta dengan kenaikan 351,49 persen dibandingkan impor dari negara ini pada bulan November 2012 yang hanya mencapai US$40,38 juta. “Angka ini berada di posisi teratas yang disusul dengan impor dari Singapura dengan nilai mencapai US$75,00 juta atau naik 41,23 persen. Sedangkan Malaysia berada diurutan ketiga dengan nilai impor US$39,55 juta dengan penurunan sebesar 75,98 persen,” urai Iskandar Zulkarnaen, Kepala BPS Kalsel.
Disamping itu nilai impor yang mengalami kenaikan persentase sangat besar adalah impor dari Jepang yang naik sebesar 12,025 persen walaupun nilai ekspornya hanya naik US$14,21 juta. “Demikian juga halnya dengan impor dari India naik sebesar 1,489 persen dengan kenaikan nilai ekspornya naik US$3,61 juta,” sambungnya
Ditambahkan Iskandar, selama bulan Desember 2012, kontribusi nilai impor dari Korea Selatan mencapai 55,66 persen dari total nilai impor Kalsel. Sedangkan impor dari Singapura dan Malaysia memberikan kontribusi sebesar 22,90 persen dan 12,07 persen. “Kontribusi 10 negara utama pemasok impor ke Kalsel pada bulan Desember 2012 mencapai 99,96 persen terhadap total nilai impor Kalsel. Dilihat dari sisi perkembangan, impor dari 10 negara asal utama dibulan Desember 2012 naik 10,74 persen dibanding nilai impor pada bulan November 2012,” sambungnya.
Sedangkan nilai impor pada periode bulan Januari – Desember 2012 naik 7,29 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan kontribusi sebesar 96,23 persen. “Ini menandakan, tingkat konsumsi atau ketergantungan masyarakat Kalsel akan barang-barang impor masih cenderung tinggi. Mudah-mudahan, hal ini bisa disesuaikan dengan kondisi ekonomi Kalsel yang stabil, sehingga bisa menghindari inflasi maupun deflasi yang berlebihan,” tandasnya.(oza)
Berdasarkan hasil survey BPS Kalsel, nilai impor Kalsel terbesar pada bulan Desember 2012 adalah berasal dari Korea Selatan dengan nilai US$182,32 juta dengan kenaikan 351,49 persen dibandingkan impor dari negara ini pada bulan November 2012 yang hanya mencapai US$40,38 juta. “Angka ini berada di posisi teratas yang disusul dengan impor dari Singapura dengan nilai mencapai US$75,00 juta atau naik 41,23 persen. Sedangkan Malaysia berada diurutan ketiga dengan nilai impor US$39,55 juta dengan penurunan sebesar 75,98 persen,” urai Iskandar Zulkarnaen, Kepala BPS Kalsel.
Disamping itu nilai impor yang mengalami kenaikan persentase sangat besar adalah impor dari Jepang yang naik sebesar 12,025 persen walaupun nilai ekspornya hanya naik US$14,21 juta. “Demikian juga halnya dengan impor dari India naik sebesar 1,489 persen dengan kenaikan nilai ekspornya naik US$3,61 juta,” sambungnya
Ditambahkan Iskandar, selama bulan Desember 2012, kontribusi nilai impor dari Korea Selatan mencapai 55,66 persen dari total nilai impor Kalsel. Sedangkan impor dari Singapura dan Malaysia memberikan kontribusi sebesar 22,90 persen dan 12,07 persen. “Kontribusi 10 negara utama pemasok impor ke Kalsel pada bulan Desember 2012 mencapai 99,96 persen terhadap total nilai impor Kalsel. Dilihat dari sisi perkembangan, impor dari 10 negara asal utama dibulan Desember 2012 naik 10,74 persen dibanding nilai impor pada bulan November 2012,” sambungnya.
Sedangkan nilai impor pada periode bulan Januari – Desember 2012 naik 7,29 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan kontribusi sebesar 96,23 persen. “Ini menandakan, tingkat konsumsi atau ketergantungan masyarakat Kalsel akan barang-barang impor masih cenderung tinggi. Mudah-mudahan, hal ini bisa disesuaikan dengan kondisi ekonomi Kalsel yang stabil, sehingga bisa menghindari inflasi maupun deflasi yang berlebihan,” tandasnya.(oza)